About Me

Foto Saya
Defira Ayu Widya Mustika
Lihat profil lengkapku
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

DUNIA PERLU TAHU


 

Karya : Defira Ayu Widya Mustika

Kelas : XI AKSELERASI
(Bikinnya niat ngga niat =.=)

 

“Di ujung gunung itu. Tempat pertama aku menemukan sebuah rahasia. Sebuah pengalaman yang tak bisa ku lupakan , sampai aku kembali kesini.” Katanya menunjukkan sebuah foto lama yang berada di album hitam yang sedari tadi dipeluknya.

Dalam benakku menyimpan sebuah tanya. Apakah rahasia itu sangat berarti baginya? Ku tepuk pundaknya yang lumayan lebih rendah daripada pundakku. Wajah manis nya terbasahi dengan air mata yang menetes deras dari bola mata indahnya. Matanya yang cokelat tak membuat nya sayu dan lesu saat menangis. Ini sesuatu yang istimewa. Pemandangan sebuah hujan kerinduan dalam langit keheningan.

“Aku mungkin tidak tau betapa rindunya kamu pada rahasia itu. Tapi , aku merasakannya lewat air mata yang kau keluarkan.” Kataku membelai rambutnya.

Alam seperti turut bercerita seiring derasnya hujan diluar sana. Kamar ini serasa luas bagiku. Cantik dengan ribuan semangat walau keadaan fisiknya tak mendukung. Perempuan itu menyandarkan kepalanya padaku. Ku rangkul pundak kanannya dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang yang mungkin tidak dia ketahui.  Jika aku bisa dengan hebat menarik hati wanita, aku akan memilihnya untuk menjadi satu-satunya orang yang bersandar dipundakku.

Angin hujan menghembuskan tirai merah di jendela kamarnya. Wajah cantik nya seketika menoleh kearah jendela. Segera aku berdiri menutup jendela . Dia menatap ku seraya menghapus air matanya.
            “Aku ingin pergi kesana lagi.” Katanya tiba-tiba.

Aku mendekatinya yang sedari tadi duduk di tepi tempat tidur. Ku genggam tangannya dengan menatap wajah manis yang tengah bersemangat itu.
            “Apa kamu yakin? Kau belum dinyatakan sehat dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini.” Kataku cemas.

“Kak, kau tau kan aku gadis yang kuat? Kau selalu bilang , aku sangat bersemangat terhadap apapun walau itu sulit. Ini hal yang mudah. Hanya dengan pergi kesana , bertemu dengan rahasia itu. Aku rindu rahasia itu . Nanti kakak akan tau apa rahasia yang ku ceritakan selama ini.” Katanya tersenyum.

Aku terdiam beku mendengar kata-katanya. Tekadnya bulat , dan tidak bisa dipatahkan begitu saja. Aku mengenalinya sejak lama . Aku tau dia gadis yang seperti apa. Kesusahan yang selama ini menimpa nya tak pernah dianggap sebagai rintangan yang sulit.

Masih jelas kuingat ketika kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya. Saat itu umurnya masih 13 tahun. Aku tau hatinya perih, namun Ia tetap berusaha tersenyum dalam hatinya yang miris.

“Ini bukan kiamat. Ini belum berakhir. Semua bisa kita lalui dengan bertahan hidup bersama keyakinan kita. Ya, aku memang merasa kehilangan, aku sedih. Tapi, dengan menangis tidak akan membuat Ami dan Abi kembali disini. Tidak akan membuat mereka berada disampingku lagi. Mereka tidak akan datang untuk membelaiku. Dan aku yakin, Ami dan Abi selalu menunggu kedatangan ku disana. Mereka sayang padaku. Tuhan sayang Ami dan Abi. Tuhan tidak akan membiarkan Ami dan Abi kesakitan, maka dari itu Tuhan menyelamatkan mereka dari rasa sakit itu.”

Kata-kata itu tak pernah hilang dari telingaku. Gadis yang menarik hatiku secara perlahan. Gadis yang mulia dimataku. Gadis yang selama ini membuat ku untuk memberi semua rasa yang ada disini. Gadis teman kecilku. Aku mengaguminya bukan hanya dari parasnya. Dan sekali lagi aku mengatakan bahwa Ia merupakan gadis yang kuat.

“Kakak bersedia temani aku kan? Nanti disana kita akan menginap di rumah opung angkat aku. Beliau yang seringf merawat aku disana. Opung aku baik kok. Dia sayang aku. Aku sudah banyak bercerita tentang kakak kepada opung. Pasti opung senang bisa bertemu kakak. Opung kepengen banget ketemu kakak.” Gadis 18 tahun itu tersenyum kepadaku.

“Benarkah ceritamu ,Ra?  Jika benar begitu, aku akan membuat opungmu lebih bahagia.” Kataku tertawa.

“Hehe. Jadi tambah sayang sama kakak .” katanya bercanda.

Aku tersenyum. Aku harap gurauannya tidak hanya sekedar bergurau. Kata-kata itu aku anggap seindah wajahnya. Mungkin bagi dia akan berlebihan, tapi ini adalah rasa yang alami di rasakan oleh setiap manusia yang ada di dunia.

Empat tahun. Selisih yang tidak jauh jika kami menjalani hubungan dan mengembangkan rasa satu sama lain. Tapi, hanya aku yang mengharapkan seperti itu. Yah, aku tau dia menganggapku sudah sebagai kakaknya sendiri. Jika gadis manis itu mengetahui semua ini, mungkin dia akan emnganggap rasa ini sebagai rasa yang tidak wajar. Sangat tidak wajar.

Tuhanpun akan marah jika rasa ini akhirnya terus berkembang. Namun. Matanya, hidungnya, tangisnya, senyumnya, candanya, semua telah melekat pada keseharianku. Ini membuatku sulit untuk berfikir. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan dengan rasa yang ada saat ini. Bahkan aku malah bersyukur, Tuhan memberiku sesuatu yang special. Sesuatu yang berbeda dimana hanya manusia manusia tertentu saja yang bisa merasakan hal seperti ini.

Walau terkadang aku merasa ganjil dengan semua ini, aku tidak pernah meminta Tuhan untuk menghapus memori ku, menghapus semua yang ada dipikiranku tentangnya. Namun, jika dipikir kembali secara nalar, ini tidak akan mungkin dirasakan pada gadis lain. Bagaimana mungkin aku mencintai Nara, sepupu perempuanku sendiri.

Aku terlahir sebagai gadis yang cacat rasa. Entah sejak kapan rasa ini ada. Jika aku terbangun ketika malam, aku merasa bahwa aku adalah gadis yang cacat seutuhnya. Gadis tak tau diri dan perasaan labil. Terkadang ini semua membuat aku menangis, apalagi ketika aku mengingat senyum Nara yang manis serta gelak tawanya yang anggun.

Tibalah hari yang ditunggu, kami berkemas pergi ke daerah yang dituju. Ini merupakan hari yang indah untuk kami, tentu dengan maksud yang berbeda. Semua terasa nyaman ketika perjalanan melewati banyak petak sawah yang luas, dihiasi satu batang nyiur hijau ditengah luasnya petak.

Kulihat cerianya mata Nara membuatnya semakin cantik. Tak bisa kupungkiri Gadis ini memiliki aura lebih dari yang lain. Cantiknya terpancar ketika sinar matahari menyelinap dari kaca mobil mengenai wajahnya. Kupandang wajah eloknya dengan sepenuh hati. Pedih. Gadis it uterus tersenyum dalam kebahagiaannya.

“Kak, liat deh. Itu dia gunung nya udah keliatan. Nanti kita kesana ya.” Katanya mengajakku.

“Bagus. Tapi apa kau kuat? Ku belum sehat betul. Apa tidak lebih baik jika kita beristirahat di rumah opung mu?” kataku.

“Yaaahh.. emm, aku mau langsung kesana ,Kak. Aku merindukannya.” Katanya kecewa.

“Sabar sayang. Kalau keadaanmu membaik, kita akan kesana. Tidak jauh kan dari rumah opungmu?” tanyaku.

“emm, tidak kok ,Kak. Tapi bener ya kakak mau nemenin aku kesana.” Katanya tersenyum.

“Iya. Kakak temenin kamu kok.” Kataku meyakinkan.

Tiba dirumah yang dituju. Aku segera memakirkan mobil dihalaman rumah yang sangat luas. Sebuah rumah yang nampak tua, namun bersih dan rapih. Nampaknya sang pemilik adalah orang yang rajin. Nara segera keluar dari mobil dan berlari kearah pintu rumah.

“Opuuuung…! Opuuung…!” Nara mengetuk pintu sambil berteriak semangat.

“Nara, sabar dong. Jangan teriak-teriak gitu. Ngga’ sopan tau.” Kataku.

“Emm.. iya ,Kak. Maaf. Nara udah ngga sabar .” katanya tersenyum.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Seraya membuka pintu, orang yang ada didalam mendongokkan kepalanya keluar. Beliau nampak tua, tapi badannya tegap, sepertinya waktu muda beliau rajin berolahraga.

“Opuuung..!”Spontan Nara memeluk pria tua itu.

“Subhanallah ,Nara. Kenapa kamu tidak bilang kalau mau kerumah ,Opung. Kan Opung bisa beres-beres dulu.” Kata lelaki itu membalas pelukan Nara.

“Oiya, Opung. Ini Kak Dika, yang sering Nara ceritakan.” Nara melepaskan pelukan.

“Apa kabar ,Opung. Saya Dika.” Kataku tersenyum seraya menjabat tangan lelaki itu.

“Wahh, ini yang namanya Dika. Cantik ya. Pasti banyak laki-laki disini yang akan jatuh cinta kepadamu.” Kata Opung.

“Hehehe. Ahh, engga’ juga. Opung ini bisa saja.” Kataku tersipu.

Aku merasa rishi terhadap perkataan Opung tentang banyak laki-laki yang akan jatuh cinta kepadaku. Padahal aku hanya menyukai Nara. Rasa tak wajarku mulai muncul. Ini mengerikan. Ini menjijikkan mungkin bagi gadis-gadis lain disekitarku. Namun, hanya aku yang tau tentang ini. Andai ada yang melarangku untuk jatuh cinta pada Nara, maka orang itu sama saja membunuh karakterku.

Opung mempersilahkan kami untuk masuk dan menyiapkan kamar untuk kami. Rumahnya begitu luas untuk ditinggali satu orang. Terdiri dari empat kamar, yang tidak tau kamar siapa saja itu. Ruang tamunya dihiasi vas bunga indah yang terdapat disetiap sudutnya. Tertata rapih semua perabotan-perabotan antik miliknya. Lukisan pemandangan yang terdapat di dinding ruang tengahnya tampak bersih. Sepertinya setiap hari lukisan tersebut dibersihkan kacanya.

Keesokan harinya, kami berkemas seadanya untuk pergi ke tepi gunung yang Nara maksudkan. Opung membuatkan perbekalan untuk kami. Beberapa pisang goreng hangat, dua botol air teh hangat dan  beberapa jenis makanan ringan lain.

Nara tampak sangat cantik hari ini. Sepertinya dia berdandan total . Namun, Ia tetap menggunakan tampulan naturalnya. Dengan topi pantai warna hijau kesayangannya. Ia memakai baju lengan pendek dan rok selutut berwarna hijau bercorak orange. Nuansa desa yang dibuatnya membuat kecantikannya memancar lebih indah.

Nara menenteng satu kantong pisang goring, dan aku membantunya membawa dua botol air teh hangat dan  makanan ringan lainnya. Dia berlari-lari kecil disepanjang perjalanan. Sepertinya Nara sudah tidak sabar ingin sampai ketempat itu.

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya. Gadis ceria itu sama sekali tidak menoleh kebelakang.

“Nara, pelan-pelan dong. Slow aja jalannya. Kakak cape’ nih.” Kataku padaya.

“Kakak, cepetan dong jalannya. Mana macho nya?” kata Nara meledek.

“Aish. Dasar.” Kataku merengut.

Tiba di tepi gunung. Sepi. Tidak ada siapapun disana. Nara yang sedari tadi tertawa nampak kecewa.

“Sepertinya kita terlalu cepat kesini.” Nara menekuk wajanya.

“Loh? Kenapa Nara? Mana rahasiamu?” tanyaku penasaran.

“Dia belum datang.” Katanya sedih.

“Dia? Jadi rahasia itu adalah seseorang?” tanyaku.

“Iya seseorang. Tapi bukan sembarang orang. Dia orang yang istimewa dimataku. Dia baik. Dia tampan.” Katanya tersenyum.

Aku sangat kecewa mendengar perkataanya. Namun, apa boleh buat? Aku hanya manusia bodoh yang memiliki perasaan kotor. Aku tak sanggup mengendalikan perasaanku sendiri. Jika andai sekarang aku mati, mungkin aku akan menutup wajahku dengan dosa-dosa ku akan perasaan ini.

Betapa tidak? Nasib seorang penyuka sesama , dari dulu hingga sekarang tidak akan memiliki kehidupan yang nyaman, tenteram, dan damai. Ingin sekali aku mengatakan “Nara, aku cinta kamu.” Tapi aku tidak ingin menerima resiko selanjutnya. Aku tidak ingin Nara menjauh dariku. Dia sangat berharga walaupun tidak akan jadi milikku.

Akan kusimpan semu rasa ini demi kebahagiaanmu. Tidak akan aku beritahu atau bercerita kepada orang lain. Tahukah Nara, aku malu menjadi wanita seperti ini. Semangatlah melawan semua penyakitmu, dan jatuh cintalah pada orang yang pantas untukmu.

 

Rabu, 04 April 2012

MY LOVELY *TUUTT



        Eeh tau ngga si Lo....???? gue punya sebuah cerita tentang gue dan si *tuutt...
        Gue dan si *tuutt itu 1 sekolah. Hmm, manis sih,, perfect , , .! gue suka kepribadian dia yang supel. Selain itu dia punya otak yang lumayan cemerlang, “wooww, smart abis. . .”
        Pagi itu gue dengan wajah ceria gue “busuk” dateng ke sekolah. Hwahh,, pagi itu hawa dingin karena abis ujan. Anggota OSIS udah pada nyiapin perlengkapan upacara “berhubung hari senin”.. pengen deh, rasanya aktif lagi di OSIS. Hmm, sayang nya itu nggak akan mungkin terjadi. Yahh, liat aja keadaan gue besama CIBI VI sekarang. Ekskul aja di batasi, apalagi organisasi. Nggak jamin deh di izinin.
        Bete’, jenuh, sebel, cape’, ngantuk, itu semua yang kadang gue rasain dikelas. Sering gue selingin waktu buat ngilangin jenuh gue dengan dengerin musik, main game atau online pake WIFI sekolah. Tapi hal itu malah tambah bikin ngantuk. Mungkin karena efek cahaya yang secara langsung kemata, dengan posisi mata nggak berkedip. Apa lagi setelah gue periksa mata and ternyata hasilnya gue kena cacat mata miopi. “haduhh, jadi stress gue...!!”
        Semua gue laluin dengan kejenuhan kejenuhan yang nggak pasti ilang nya kapan. Gue coba buat bertahan, happy, smile, without cry. Tapi usaha gue susah untuk di capai. Dalam ke jutekan gue ini, gue masih nyimpen rasa tertekan, pengen nangis, pengen curhat sama ortu, pengen dapet dukungan ortu secara langsung. Apalagi setiap bulannya gue pasti sakit. Entah itu kerasa Cuma 1 hari, ataupun kerasa seminggu. Kepala gue pusing,, “mungkin akibat stress.”
        Sekitar 6 bulan gue ngerasain hal itu, dan akhirnya kejenuhan gue udah mulai berkurang. “Tau kenapa?” gue bertemu dengan someone, yaitu *tuutt.. yah,, gue bertemu pertama kali dengan kesederhanaan *tuutt.. tapi itu bukan pandang pertama. Gue mulai salut sama dia setelah pandang ke 15, 16, 20, ehh,, mungkin pandang ke 30,, uppss,, salah.. 50... aisshh... gua ngga tau jelasnya itu pandang ke berapa. Tapi yang jelas, sesuatu yang gue nggak nyangka bakal terjadi, akhirnya menimpa gue. “seneng sih”.
        Tiap hari nya gue usahain ketemu *tuutt, yah itung itung ngehibur hati gue sedikit. Gue ngerasa seneng banget kalo dia nyapa gue. Yahh,, *tuutt.. you are so cute. Gue ngerasa kenyang kalo setiap pagi liat senyumnya. “Lebay”. Tapi itu kenyataan loh. Gue pengen banget tauk siapa *tuutt sebenernya, bagaimana dia, siapa orang spesialnya. Apa dia ngerasa dengan apa yang gue lakuin sama dia saat ini? “mudah-mudahan enggak” walaupun gue suka sama *tuutt, tapi gue nggak pernah punya impian buat milikin *tuutt.. idihh,, nyadar juga gue, siapa gue ini. . lagi pula, nggak akan gue ingkarin janji gue sendiri, NGGAK AKAN PACARAN SAMPE LULUS SMA. “tolong pegangin janji gue ya friends”.
         Hal itu gue lakuin bukan karena trauma atau karma yang pernah gue alamin sebelumnya, tapi karena hal itu adalah kewajiban yang baru gue sadarin sebagai seorang siswa sekarang . “gilee bener bahasa lu”.
        Malem itu nggak sengaja gue ngeliat senyum *tuutt lagi. Waktu itu gue and SOBAT RRC lagi dugem di samping halaman kos, ehh secara ngga sengaja ada *tuutt..  walaupun senyumnya numpang lewat, tapi gue ngerasa seneng banget. Yahh,, namanya juga remaja labil, apapun bisa terjadi. Gue nggak tau jelas *tuutt senyum sama siapa. Tapi yang gue tau, gue liat senyum *tuutt aja itu hal yang terpenting malem itu.
        Hari hari gue selalu bahagia waktu *tuutt nyapa gue, *tuutt ketwa sama gue ,, *tuutt senyum sama gue.. kalo boleh jujur sebenernya *tuutt itu temen terdekat gue. Tapi gue nggak pernah cerita ke sapa sapa tentang hal itu. bahkan SOBAT DIAMOND VI and SOBAT RRC aja nggak ada yang tau.
        Waktu itu pernah gue sempet kesel sama *tuutt karena kelakuan *tuutt sendiri. Bukan sama gue, tapi sama orang lain. Sempet gue ngerasa ilfil. Tapi hal itu ilang lagi setelah *tuutt ngajak gue becanda. Gue suka ke gokilan *tuutt. *tuutt mungkin nggak menyadari keberadaan dia di kepala gue. “gue nggak berani bilang keberadaan di hati, cos yang di hati itu udah ada someone, tapi bukan *tuutt. Someone yang nggak bisa di lupain.”
      *tuutt cukup baik untuk di jadikan sahabat. Gue nggak mau kehilangan sahabat kaya’ dia. Susah cari sahabat yang nggak pernah marah sama gue. Apalagi cowo’, secara gitu gue kan super nyebelin and super jail. Waktu itu sempet gue mau curhat ma CHAMELL, tapi ngga jadi, gue malu. Haisss, malu nya bukan karena apa apa, tapi karena something yang gue sendiri malu buat ngakuinnya. Sebenernya gue udah sering curhat sama CHAMELL, tapi kalo yang ini gue belum pernah cerita sama CHAMELL. “kapan-kapan ya , MELL, gue ceritain”.
Balik lagi ke *tuutt.
        Tanpa gue sadari sekarang gue tenggelam dengan hayalan hayalan gue kalo udah lulus nanti. Mungkin nggak bisa ketemu *tuutt lagi. Hari hari gue kosong lagi, Cuma bisa kontak lewat teknologi. “jiaahhh apa lengkap semua penderitaan gue besok besok?” lulus bareng *tuutt nggak jamin kan bisa satu universitas. Apalagi satu jurusan. Secara gitu gue sama *tuutt impian and isi otak nya kalah jauh.
        Mungkin gue Cuma mentok di sini sini aja. Tapi gimana sama *tuutt. Pasti dia melanglang buana kemana aja yang dia mau, dan dia bakal lupa sama gue. “nggak bisa ngebayangin hal itu bakal terjadi sama gue”. Gue mungkin akan datang nya masih butuh *tuutt buat hibur hati gue. Tapi gue nggak pernah minta tuhan untuk membuka hati *tuutt  buat ngerespond hati gue. Yahh,, *tuutt, ketika gue sadar, sekarang ini gue Cuma bisa nikmatin kehidupan gue gini adanya, gue bisa sedikit ngelupain kecemasan itu. karena yang sekarang , ya sekarang terjadi. Bukan kemarin, esok, ataupun lusa.


NB   :
1.    *TUUTT       : Someone yang gue suka, tapi nggak berlebihan
2.   SOBAT RRC  : temen-temen Republik Rini Cost yang berjumlah 11 orang.
3.   SOBAT DIAMOND VI  : murid CIBI (Akselerasi angkatan 6, yang berjumlah 17 siswa)
4.   CHAMELL     : sobat eyel-eyelan gue, Muhammad Kamal.

http;//facebook.com/defira.a.mustika 

SAHABAT DEKATKU




          Pakaian lusuh dan sebuah mangkuk bekas selalu menemani lelaki tua itu menikmati hari-harinya. Ketika nasib nya bagus, akan banyak orang mengasihi nya. Ketika nasibnya buruk, tak seorang pun datang kepadanya. Tak tahu dimana anak cucu nya. Tega kah mereka meninggalkan nya, sementara ia terhampar di jalanan sunyi, di tengah-tengah keramaian ia menahan malu  demi sesuap nasi.
          Ku tatap mata nya yang berkaca-kaca meratapi nasib. Tas mungil berwarna hitam dengan boneka Winnie The Pooh mini sebagai hiasan depannya ku rogoh seketika. Ku ambil cukup uang yang ku punya, tangan ku mengarah pada mangkuk bekas yang ia punya. Ia senyum penuh bahagia. Aku pun menyambut senyumnya.
          “Terimakasih banyak, semoga diberkahi. . .” sambutnya.
          Aku pulang dengan rasa puas dan lega entah karena apa. Mungkin karena keikhlasan memberi kepada pengemis itu. *Lhoo?? . Perjalanan menuju rumah masih jauh kurasa. Ku langkahkan kaki di tepi jalanan yang ramai. *Hmm, minder sih, secara jalan kaki gituh! . Terus dan terus ku langkahkan kaki sambil mengobarkan semangat’45 demi perjalanan 5Km lagi. *semangat yoo semangat!
          Keringatku bercucuran tiada habisnya.
          “Ahaaaaa....!!!” muncul sesuatu di pikiranku.
          Kuambil uang Rp 1000,00 yang berada di selipan tas ku. Pikiran licik ku muncul secara tiba-tiba tanpa memikirkan resiko atau hal-hal yang akan terjadi setelah ini. Segera aku memasang wajah memelas menghadap jalan. Akhirnya terketuklah hati seorang supir angkot yang tiba-tiba menghampiriku.
          “Yuk, naik. . .!” katanya.
          Dengan santai nya ku naikki angkot tersebut. *OK! Tahap pertama selesai . Sangat gerah di dalam angkot saat itu, mungkin karena cuaca yang begitu panas. Tapi tak apa, yang penting kaki antik ku selamat dari kapalen . hhehe.
          “Kiri ,om !” kataku menghantikan angkot tersebut.
          Ku keluarkan uang Rp 1000,00 yang ku pegang sedari tadi. Keluar lah aku dari angkot dan ku berikan uang itu kepada supir baik hati itu.
          “Uang nya kurang nih !” katanya.
          *haduhh ketauan.
          “maap, bang. Lagi boke’.” Ku aktifkan kemampuan kaki seribu ku, alias Lari , Ciiiin. . . .! ! !
          “Hoy. . . sialan lo . . “ kata supir tersebut.
          Hiiiyy, atuut. . .
          Tadi bikin pahala sekarang bikin dosa. Itulah aku. Kalo ngelakuin yang baik dikit, buruk nya lebih banyak. Untung rumahku masuk gang-gang sempit yang tidak mungkin angkot dapat menerobosnya, kecuali jika supir angkot itu mau turun dan mengejarku.
*kalo nggak mau kehilangan rejeki yang lain.
          Hmm, bahagia aku hari ini, tapi lumayan lelah juga setelah jurus kaki seribu yang ku keluarkan tadi. Huah, haus juga ternyata. Rumah ku masih lumayan jauh, 5 tikungan lagi. Sial. . .! uang ku habis pula. Tuhan, tolong hambamu. Dehidrasi, kerongkongan memanas, kaki melemah, kocek habis bersih.
          Hmm, apa aku pura-pura pingsan saja? Dan nanti bakal ada yang menolongku, dan aku di antarkan pulang, lumayan kan? Tidak lelah, tapi gratis.
          Aku memulai aksi ku. Wajar lah, artis sekolah gitu, beruntung aku mengikuti seni drama di sekolah. Ku rebahkan tubuhku di celah-celah gang tersebut. 10 menit aku menunggu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
*Dodoll...!Fira dodol sumpah. Gang ini kan selalu sepi. Jarang ada orang yang lewat. Lagi pula ini juga jam berapa? Hmm, tak ku sangka sifat dodol ku masih melekat juga di kepala ku.
          Uuhh, kalau begitu untuk apa aku buang-buang waktu demi misi nggak jelas seperti ini. Yah, sekali nya dodol ya tetep dodol aja. Ku teruskan perjalananku dengan otak dodol ku yang masih berstatus “awas”.
          Akhirnya tibalah aku 10 meter dari rumah. “Semangat...!!” aku menyemangati diriku sendiri. Baru satu langkah akan memasuki halaman rumah,
*waww... tiba-tiba aku melihat sesuatu. *sesuatu banget. Ada someone di balik mobil merah mengkilap itu. “Mas Irwan...” anak bos dari Ayah ku. Orang nya manis seperti aku. *hoeekkk.!! Dia siswa kelas 2 SMAdi salah satu sekolah ternama di Bandar Lampung. Tutur kata nya baik, bergaul dengan siapa saja, tanpa memilih milih kawan ataupun pacar, *Lhoo..?? orang nya lucu, kocak, gokil, perfecto! Siapa sih yang nggak mimpi dapet pacar kaya’ dia.?
          “Kenapa , fir?” si manis itu tiba-tiba menyapa ku.
          “Oh, enggak, Cuma ngeliat aja. Tadi aku kira siapa yang disitu. Ku kira orang baru, nggak taunya , Mas Irwan tho?” kataku salah tingkah.
          “Ooo, kirain kenapa? Mampir sini. Nanti Mas kasih.” Katanya.
          “helah, kasih apa? Paling paling di kasih kerjaan ngepel.” Gurau ku.
          “Ya enggak lah, masa Mas tega nyuruh kamu kesini cuma buat ngepel. Enak aja. Bantuin Mas cuci mobil geh.” Katanya bergurau.
          “Yeee,, enak aja. Sorry banget. Ogah. . .! hhehe. Mendingan aku cabut. Assalamualaikum.” Kataku berlari.
          “Heh, mau kemana? Suruh bantuin malah kabur.”
          “Ada something, Mas!” kataku berteriak.
          Hihi,, sebenernya pengen kalo cuma sama Mas Irwan. Tapi kalo suruh cuci mobil, enggak ah. Bukan apa-apa. Tapi saya ndak ahli. Serius deh. Maaf ya Mas Irwan, bukan maksudku menolak untuk membantumu. *hhaha, gaje.
          Yah, hari ini banyak kejadian yang aku alami. Inti nya ya berasal dari kedodolan ku sendiri. Tapi aku cukup percaya diri loh untuk ukuran remaja dodol sedunia. *hhaha. Rasanya sifat dodol sudah jadi makanan sehari-hari dan sahabat dekatku. Tuhan , beri aku kekuatan untuk menghilangkan kedodolan ku. *amin. Semoga , yang baik terulang di lain waktu, yang buruk tak terulang lagi. Karena yang buruk membuat kedodolanku semakin terpuruk.

Senin, 14 November 2011

Bintang Kehidupan

            Sepasang mata tampak berkaca dengan pandangan kosong. Gadis manis dengan perawakan tinggi kurus itu duduk di tepi pantai, pikirannya kacau dengan hati yang teracak-acak. “Apakah hidupku harus seperti ini?” tanyanya dalam hati. Diambilnya sesuatu dalam tas mungilnya. Ternyata sebuah foto keluarga yang amat lusuh. Tak bisa dibayangkan dalam batinnya, masa depan keluarganya akan berakhir sampai disini. Belaian seorang Mama dan kasih sayang seorang Papa kini harus tenggelam bersama pertengkaran dalam sebuah keluarga.
            Seragam SMA yang ia kenakan menemani kesedihan yang baru ia alami. Perceraian yang terjadi membuatnya semakin tertekan. Apa yang bisa dilakukan oleh gadis SMA yang baru berumur 14 tahun? Kebingungan menimpanya dengan segala masalah yang ia alami. Antara takut jauh dari Papa atau Mamanya, dan takut jadi bahan omongan. Usia yang labil membuatnya sulit menerima kenyataan.
            “Tuhan, hinakah aku di mata mu? Apa aku sanggup menjalani semua ini? Ambil aku sekarang. Apa aku harus hidup tanpa mereka yang aku sayang? Sungguh aku tak sanggup, Ya Tuhan.”Tangisnya dalam deraian ombak pantai. Keputus asaan yang di alaminya sangat membuat dirinya tertekan.
            “Maafkan Mama. Mama memang bukan orang tua yang baik untukmu” sesosok wanita dengan suara serak karena tangis berdiri di belakangnya.
            “Mama...!” tangis gadis itu semakin deras ketika memeluk Mamanya.
            “Maafkan Mama Gyn, hapus air matamu. Tidak perlu kau menangis karena perceraian orang tuamu. Tinggalah bersama Mama. Papa  mu sudah pergi entah kemana. Dia sudah bahagia bersama wanita pilihannya” lanjut wanita berusia 35 tahu itu. Di wajahnya terpancar senyuman dalam tangis.
            “Kenapa, sih, Ma? Kenapa harus Gyna yang merasakan akibat dari ini semua? Gyna pengen kita kaya’ dulu lagi” kata gadis itu.
            “Mungkin ini jalan keluar yang harus kita alami sayang. Kamu mau kan tinggal sama Mama?”
            Gyna menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya masih tersimpan rasa sedih yang amat mendalam. Dalam kegalauannya masih teringat tawa Papa dan Mama nya ketika sedang bersama. Terlukis kembali keluarga harmonis yang ia banggakan. Namun ia mulai sadar, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
*  *  *  *  *  *  *  *  *  *

            Rumah besar bertembok hijau muda itu yang selalu mewarnai keseharian Gyna. Gadis itu selalu sendirian. Mama nya bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di kotanya. Hanya ditemani Bi Ijah, pembantu berusia sekitar 50 tahun yang bekerja di rumahnya. Wanita yang di anggap nya sebagai nenek itu selalu mendengar curahan hati Gyna, dari hal sekolah sampai masalah cinta. Bi Ijah yang berhati lembut itu selalu memberi nasihat-nasihat yang bermanfaat bagi Gyna sendiri.
            Pagi itu begitu gelap, awan hitam menyelimuti langit dan menghalangi matahari untuk menyampaikan senyumnya untuk Gyna. Gyna yang setiap paginya berdiri menatap matahari pagi di jendelanya harus menelan ludah karena matahari tidak akan datang pagi itu. Dalam hatinya terasa sepi.
            “Akankah ini akan jadi hari bahagia untukku?” tanynya dalam hati.
            Berdiri Ia di belakang jendela melihat dan mendangak ke awan. Wajahnya yang cantik menjadi murung.
            “Hari Minggu yang ,membosankan” pikirnya.
            “Tok,tok,tok...!” tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang.
            Gyna membuka pintu. Betapa terkejutnya Ia ketika melihat sesosok wanita tua berwajah ramah menatapnya dengan penuh bahagia membawakan kue bertuliskan “SELAMAT ULANG TAHUN”.
            “Selamat ulang tahun, cah ayu. Semoga cah ayu selalu mendapatkan kebahagiaan” kata wanita itu memberi ucapan.
            “Bi Ijah...!” seru Gyna seraya memeluk wanita itu.
            Terjatuhlah air mata Gyna di pipi merah nya itu. Wajahnya yang manis menampakan sebuah rasa bahagia bercampur sedih. Seperti ada yang mengganjal di hatinya.
            Bi Ijah melepaskan pelukan Gyna dengan halus setelah menyadari bahwa gadis manis itu menangis di bahunya. Wanita tua itu menatap Gyna penuh sayang. Mungkin beliau mengetahui apa yang sedang di fikirkan Gyna. Namun, wanita itu coba menanyakan kepada Gyna untuk memastikan dugaannya.
            “Cah ayu kenapa? Cerita dong sama Bibi. Siapa tau Bibi bisa bantu.” Katanya.
            Gyna terdiam sejenak sambil menghapus air mata di pipinya. Kepalanya tertunduk kebawah. Gadis itu ingin mengatakan sesuatu, namun tak sanggup ia katakan di tengah isak tangisnya. Dan sekali lagi Bi Ijah menanyakannya.
            “Cah ayu kenapa tho? Jangan nangis lagi, nanti ayu nya ilang lho. Cerita ya sama Bibi?”
            “T-terima kasih ,Bi. Bibi udah inget ulang tahun Gyna. Bibi orang pertama yang ngucapin ke Gyna. Gyna seneng banget , Bi” kata gadis itu tersenyum. “Gyna seneng banget ada Bibi yang selalu ada buat Gyna. Tapi...” gadis manis itu tak melanjutkan perkataannya.
            “Tapi kenapa cah ayu? Ada yang salah? Atau Bibi buat cah ayu marah? Bibi minta naaf, ya?” kata wanita itu.
            “Nggak kok , Bi. Bibi nggak salah apa-apa.” Katanya.
            “Lantas cah ayu kenapa?”
            “Hiks...hiks...!” suara tangis Gyna semakin menjadi. “Gyna punya Mama kan , Bi? Tapi kenapa Mama nggak pernah inget ulang tahun Gyna? Apa Gyna ini anak angkatnya? Atau Mama benci Gyna karena Gyna anak dari Papa, laki-laki yang menyakiti Mama?” lanjut Gyna.
            “Cah ayu nggak boleh ngomong gitu. Mungkin Mama nya lagi bener-bener sibuk, jadi ndak inget ini tanggal berapa.” Kata Bi Ijah menenangkan.
            “Kata siapa ,Bi? Sampai 4 tahun setelah perceraian Mama dan Papa, Mama nggak pernah ngucapin kata-kata SELAMAT ULANG TAHUN padaku!”serunya.
            Bi Ijah diam sejenak.
            “Pasti Ndoro Putri menganggap cah ayu ini sebagai sosok yang dewasa. Dan udah nggak mungkin dimanja lagi. Cah ayu juga harus tau, sekarang umur cah ayu bukan  17 lagi. Ndak terasa kan cah ayu sudah beranjak dewasa? Hayo sekarang kan cah ayu sudah 18 tahun. Berfikirlah lebih dewasa. Anggap semua itu adalah hal positif cah ayu” kata wanita itu halus.
            Gyna hanya bisa terdiam.
            “Ya sudah, Bibi tinggal dulu ya cah ayu. Pekerjaan di dapur belum selesai. Cah ayu cepat mandi. Nanti hujan akan turun, keburu dingin.” Katanya seraya meninggalkan Gyna.
            Gyna tetap diam memikirkan apa yang dikatakan Bi Ijah, wanita yang selalu di percayaiya itu.
            “Mungkin benar kata Bi Ijah. Aku bukan anak kecil lagi.”pikirnya dalam hati. Bergegas Ia mengambil handuk hijau muda yang tersampir di balik pintu kamarnya.
*   *  *  *  *  *  *  *  *  * 

            Gantunagn kunci kecil berbentuk kura-kura berwarna hijau muda melukiskan keseharian Gyna yang selalu ceria di Universitas tempat Ia menimba ilmu.
            “Hei, Gyn!” tampak seorang gadis berperawakan agak gendut menyapanya.
            “Hei, Sasha!” seru Gyna menghampirinya.
            “Bagaiman hari mu kemarin?” tanyanya.
            “Maksudnya?” tanya Gyna.
            “Emm, enggak jadi deh.” Kata Sasha membuat Gyna semakin penasaran.
            “Kenapa sih?” tanya Gyna.
            “Enggak papa. Aku lupa tadi mau ngomong apa. Hhehe...”
            “Huuu, dasar kau pelupa” kata Gyna tertawa.
            “Ehh tau nggak...?” kata Sasha menebaki Gyna.
            “Tau apa?”
            “Apa coba?”
            “Ya apa?”
            “Hmm, tebak dulu geh” kata Sasha.
            “Bagaimana aku tau kalu kamu nggak bilang apa-apa.”
            “Kita kedatengan Dosen baru.” Katanya.
            “Terus?” tanya Gyna seakan mengejek.
            “ Ihh kok terus sih? Dosennya cakep lho.”
            “Bodo amat ihh. Kamu disini mau nimba ilmu apa ngelirikin Dosen cakep?” ledek Gyna.
            “Hehe, sebenernya sih dua-duanya” kata Sasha malu-malu.
            “Ya udah yuk. Kita masuk kelas. Dosen cekep menunggumu!” goda Gyna.
            Kelas itu begitu ramai. Semua gadis di ruangan itu tampak berdandan dan memamerkan masing-masing aksesoris yang dipunyai. Tak terkecuali Sasha yang terlihat sibuk membubuhi wajahnya dengan bedak, serta mengukir bibirnya dengan lipstik berwarna merah jambu tipis.
            “Gyn, kamu nggak dandan?” tanya Sasha.
            “Nggak.” Sambutnya cuek melihat tingkah sahabatnya itu.
            “Hmm, nggak mau tah nyambut Dosen baru kita yang ganteng?”
            “Nyambut sih nyambut. Tapi kan nggak perlu segitunya juga”
            “Biar keliatan cantik tau”
            “Hmm, kalo aku sih nggak usah ,Sha. Nggak dandan aja aku udah cantik.”canda Gyna.
            “Iya deh, percaya yang cantik alami” tawa Sasha.
            Tiba-tiba Dosen yang ditunggu-tunggu datang juga. Badannya begitu tegap, kulitnya putih, wajahnya tampan, jika dikira-kira umurnya sekitar 25 tahun.
            “Selamat pagi anak-anak! Nama saya Gunawan, bisa dipanggil Gun. Di dalam lingkungan belajar kalian boleh panggil saya Pak Gun atau Mr. Gun. Di luar, kalian boleh panggil saya apa saja.” Kata laki-laki itu.
            “Pak...!” tiba-tiba Sasha memenggil Dosen baru itu.
            “Iya, kenapa? Sebutkan namamu.” Kata Pak Dosen.
            “Nama saya Sasha. Umur Bapak berapa? Masih lajang?” tanyanya tanpa malu-malu.
            Pak Gun tersenyum manis mengangkat alis kirinya.
            “Ssst... nggak punya malu kamu rupanya. Aku aja malu denger pertanyaan kamu” bisik Gyna.
            “Ahh bodo’ amat. Yang penting aku nggak penasaran lagi.”
            “Huuu... dasar kau!”elu Gyna.
            “Hmm... umur saya...35 tahun, dan saya masih lajang” jawabnya enteng.
            Seisi kelas tampak terkejut mendengarnya.
            “Nggak mungkin...! bapak begitu tampan, begitu muda, nggak mungkin umur bapak selisih belasan tahun terhadap kami. Bapak pasti bohong kan?” Kata Sasha.
            Dosen itu hanya tersenyum mendengar pernyataan Sasha.
*  *  *  *  *  *  *  *  *  *

            Gadis itu menatap Gunawan dengan penuh rasa sayang. Gyna yang awalnya tak begitu mempedulikannya, kini begitu memujanya. Namun , Gyna tetap menyembunyikan perasaan itu. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Gunawan sibuk menjelaskan tugas yang akan diberikan kepada Gyna.
            Laki-laki tampan yang umurnya 4 tahun lebih muda dari sang Mama itu tiba-tiba menghentikan bicaranya ketika menyadari bahwa Gyna tidak mendengarkan apa yang Ia katakan, Ia berfikir Gyna sedang memikirkan sesuatu yang ada pada diri laki-laki itu. Sebentar Ia merasa salah tingkah, namun akhirnya laki-laki itu dapat mengendalikan keadaan, Ia kembali menjelaskan tugas itu kepada Gyna.
            Keluar dari ruangan itu, wajah Gyna memerah. Seperti ada sesuatu dalam pikirannya. Ia mulai menyukai Dosen baru itu. berjalan Ia ke sebuah perpustakaan di Campus nya. Tampak sepi ternyata. Mahasiswa yang lain mungkin sibuk mengerjakan tugasnya.
            Diambilnya sebuah novel lusuh yang berada di lemari perpustakaan paling pojok. Sampulnya sudah tak layak lagi. Kata pengantarnya pun telah sobek dan hilang entah kemana. Dibacanya halaman demi halaman novel itu. Gyna memang memiliki hoby membaca sejak kecil. Baik dari novel, buku pelajaran, komik, majalah, dan lain-lain. Biasanya Gyna membutuhkan waktu 3jam untuk membaca novel 256 halaman.
            Perlahan air mata Gyna menetes. Tak dirasakan oleh Gyna. Barulah Ia menyadari ketika air matanya jatuh ke lembar halaman yang Ia baca. Segera dihapusnya air mata itu, kemudian Ia tersenyum.
            Dari jendela perpustakaan tampak matahari mulai redup menandakan waktu akan petang. Bergegas Ia keluar perpustakaan karena perpustakaan akan ditutup pukul 17.00. Berjalan Ia ke parkiran sepeda motor yang letaknya tak jauh dari perpustakaan. Diambilnya sebuah kunci motor dan boneka kura-kura mungil sebagai bandulnya. Sepeda motor hijau di pojok parkir sebelah kanan. Dengan tanpa ragu Ia mengendarai sepeda motor nya itu.
            Jalanan sangat ramai disore hari. Dipenuhi oleh pengendara sepeda motor yang lalu lalang tak karuan tanpa menaati peraturan lalu lintas. Tidak dengan Gyna. Sebagai mahasiswi, Ia menyadari, ketertiban lalu lintas ada pada pemakai jalan itu sendiri. Jadi kemacetan di jalan raya tidak sepenuhnya kesaahan pemerintah. Debu beterbangan dimana-mana, untungnya gadis manis yang sangat menaati lalu lintas itu membawa masker dan helm. Setidaknya itu dapat membantu agar debu tidak secara langsung tersaring di dalam hidung.
            Tiba Ia disebuah jalan yang jauh dari keramaian. Hanya ada sekitar dua atau tiga mobil yang lewat disitu per menit nya. Dengan santainya Ia diatas sepeda motor kesayangannya itu. Tiba-tiba, ada sesuatu yang terjadi pada sepeda motornya. Mogok.
            “Ya ampun, kenapa lagi sih, ni motor? Nggak mutu banget!” gerutunya.
            Ia mondar mandir mengelilingi sepeda motornya. Mencari tau apa yang terjadi pada sepeda motornya. Akan tetapi, Gyna yang memang tidak tau apa-apa tentang mesin sepeda motor tak menemukan sesuatupun,
            “Hmm, kalo gini caranya gimana aku bisa pulang? Bodoh! Kenapa tadi waktu berangkat nggak di cek dulu sih? Mana udah sore lagi!” Gyna menggerutu lagi.
            Tak lama kemudian, tiba-tiba ada sebuah mobil yang lewat di jalan itu. Mobil merah yang list pintunya bermotif batik itu berhenti seketika di depan Gyna. Gyna terdiam. Dalam hatinya Ia merasa takut akan ada sesuatu yang lebih menakutkan yang akan terjadi. Jantungnya mulai berdegup dengan kencangnya. Wajahnya pucat menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.
            “Ya Tuhan. Siapa orang yang ada di dalam mobil ini? Bagaimana jika aku di culik orang tak dikenal, diperkosa, dibunuh, dimutilasi, kemudian mayatku di buang secara terpisah. Bagaimana nasib Mama? Mama dirumah hanya sendiri jika Bi Ijah sedang mudik. Kasihan Mama. Tuhan selamatkanlah aku. Aku masih ingin hidup. Aku tak punya musuh. Aku juga hampir tidak pernah membohongi Mama. Aku janji tidak akan berbohong lagi pada Mama!” pikiran Gyna kembali seperti anak umur 14 tahun lagi.
            Keluarlah seseorang dari mobil tersebut.
            “Mobil kamu kenapa Gyna?” tanya seseorang yang baru keluar dari mobil itu.
            “Eeee, anu. Emm... Mogok ,Pak. Tiba-tiba berhenti di tengah jalan.” Kata Gyna gugup setelah mengetahui siapa orang di balik mobil merah tersebut.
            “Hmm...” kening laki-laki itu berkerut seperti memikirkan sesuatu. Wajahnya menjadi terlihat lebih tampan ketika Ia berfikir.
            “Begini saja, saya akan telvon tukang servis motor langganan adik saya, untuk membawa sepeda motor kamu ke bengkel nya, sedangkan kamu pulang sama saya naik mobil.” Katanya memberi usul.
            “Emm, tapi apa nggak ngerepotin Bapak?” tanya Gyna salah tingkah.
            “Nggak papa kok. Bentar lagi mobil pengngkutnya akan datang membawa sepeda motormu. Tunggu saja. Emm, lima menit lagi.” Kata dosen tampan itu.
            Tak lama kemudian mobil pengangkutnya pun datang. Akhirnya Gyna pulang bersama Dosen yang tak sadar Ia sukai itu.
            Waktu demi waktu rasa itu tidak dapat ditahan oleh Gyna. Perasaan itu mulai menjadi setiap Ia belajar melupakan Dosen itu. Mereka pun semakin dekat seiring berjalannya waktu. Kabar kedekatan mereka di dengar oleh seluruh mahasiswa disana. Bahkan para Dosen pun tahu. Sampai suatu hari, Gunawan dikeluarkan dari universitas itu karena kedekatannya dengan Gyna.
            Setelah kejadian itu, Gunawan berpindah tugas ke Universitas lain. Namun Gunawan tak kehilangan kontak dengan Gyna. Keduanya menjalin hubungan yang lebih dari berteman. Hubungan itu mereka jaga selama empat tahun lamanya.
            Sampai suatu ketika, cobaan menimpa mereka.
*  *  *  *  *  *  *  *  *  *

            Gyna terbangun dari tidur siangnya ketika pintu kamarnya diketuk Mama nya. Di buka nya pintu yang berada di dekat tempat tidurnya itu.
            “Gyna sayang...!” Mama Gyna memeluknya dengan bahagia.
            “Hmm,, Mama kenapa sih? Kok kayanya bahagia banget?” tanya Gyna mengusap matanya.
            “Duduk dulu deh. Emm, Gyn. Apa tanggapan kamu kalo Mama nikah lagi?”
            “ee..?? ya bagus dong , Ma.” Kata Gyna.
            “Kalo Mama nikah sama Dosen?”
            “Ya lebih bagus , Ma.”
            “Trims sayang!” kata Mama Gyna senang.
            “Emang calon Mama namanya siapa?” tanya Gyna penasaran.
            “Emm, sebenernya bukan calon, Gyn. Tapi Mama suka aja sama orang itu. Orangnya ganteng. Umurnya juga nggak jauh dari Mama. Namanya ...”
            “Siapa ,Ma?”
            “Gunawan!”
            “ah..?? s-siapa ,Ma? G-gunawan?” tanya Gyna lagi. Suaranya parau.
            “Iya. Memang kenapa Gyn? Penasaran ya?” tanya Mamanya.
            “Emm, i-iya ,Ma. Gyna penasaran.” Hatinya bergejolak. Penuh ketakutan bagaimana jika apa yang di sangka nya itu benar.
            Sore itu Gyna pulang lebih dulu dari biasanya karena di televon Mamanya. Mama Gyna mengatakan bahwa Ia akan diantarkan laki-laki idamannya sore ini. Ruang tamu segera Ia hiasi untuk menyambut kedatangan pria idaman Mamanya, dibantu Bi Ijah.
            Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil dari luar rumah. Dan suara Mama nya mengajak seseorang masuk ke rumah. Gyna menunggu dengan was-was. Di bukanya pintu rumah dengan ragu-ragu. Betapa terkejutnya Ia ketika yang dilihatnya itu Gunawan miliknya, kekasihnya, dan belahan jiwanya. Terjadi perubahan di raut wajahnya.
            “Gun, kenalin. Ini anakku. Namanya Gyna. Cantik bukan? Gyna, ayo salaman sama Om Gun nya.” Kata Mamanya memperkenalkan.
            Mereka berdua berjabat tangan seolah tak kenak satu sama lain.
            “Masuk ,yuk!” ajak Mama nya kepada Gunawan.
            Gunawan tersenyum. Namun ada kebingungan di raut wajahnya. Kaki Gyna terasa lemas saat itu.
            Keesokan harinya Gyna dan Gunawan bertemu di taman.
            “Bagaimana dengan hubungan kita, Mas?” tanya Gyna seketika.
            “Bagaimana apanya?”tanya nya.
            “Sepertinya kita nggak bisa ngelanjutin ini lagi,Mas.”
            “Kenapa , Gyn? Ada masalah? Kenapa harus begini? Pasti ada jalan keluarnya.” Katanya khawatir.
            “Tapi Mama menyukaimu , Mas!” air mata Gyna menetes.
            “Apa? Bukankah Mama mu hanya menganggap ku sebagai partner kerja sampingan ku?” kata pria tampan itu.
            “Mas. Mama bahagia jika bersamamu. Aku nggak mungkin membiarkan dia merasakan sakit untuk kedua kalinya.” Kedua tangan Gyna menggenggam tangan Gunawan dengan erat.
            “Tapi nggak mungkin Gyna! Aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangimu. Nggak mungkin!” katanya dengan nada sedikit marah.
            “Apanya yang nggak mungkin ,Mas? Mas pasti bisa merubah perasaan itu. Aku yakin Mas bisa. Aku mohon, Mas. Hanya Mas satu-satunya orang yang bisa buat Mama bahagia saat ini. Aku mohon, Mas. Demi aku.” Gyna menangis. Namun mencoba tetap mengeluarkan suara lantangnya.
            “Demi kau? Demi kau atau demi Mama mu? Bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkan aku? Apa kau tidak peduli perasaanku? Kau tega? Kau tega melihat aku tenggelam dalam sandiwara cinta? Apa aku harus melakukan hal yang tak penting seperti itu?!” tanyanya tak bisa meredam amarahnya.
            “Mas harus melakukan itu. Dan hal irtu sangat penting ,Mas. Mas pasti bahagia hidup bersama Mama. Kalo Mama bahagia, aku pun bahagia. Tapi inget ,Mas, jangan pernah bilang tentang hubungan kita ke Mama.”
            “Baiklah. Jika itu maumu. Aku turuti. Aku bangga pernah memiliki orang sepertimu. Dan suatu saat mungkin aku akan bangga menjadi ayahmu.” Gunawan pergi meninggalkan Gyna sendirian ditaman.
            Gunawan berjalan menghapus air matanya dan mencoba untuk menerima semua permintaan Gyna. Gyna tetap menangis bahkan lebih dari sebelumnya. Hati nya perih. Dalam benaknya teringat kisah novel yang pernah Ia baca di perpustakaan dengan sampul yang sudah tak layak lagi. Ternyata di dalamnya terdapat kisah Gyna yang sekarang ini. Entah itu kebetulan atau apa. Semua tidak ada yang mengetahuinya.
            Hanya dua bulan Mamanya dan Gunawan mengalami pendekatan, keduanya menikah. Hari itu Mamanya terlihat sangat bahagia. Begitu juga Bi Ijah, karena memang Gyna tak pernah menceritakan hal ini kepada Bi Ijah. Gunawan pun merasakan hal demikian. Wanita yang di cintainya harus menjadi anak tirinya, itu merupakan kenyataan yang pahit.
            Pesta pernikahan berjalan lancar. Pada saat malam pengantin, hati Gyna terasa semakin hancur. Malam itu terasa panjang buatnya. Sampai suatu ketika, kira-kira pukul 1 malam, Gyna kehiangan akal fikirannya. Gejolak yang Ia alami sangat membuatnya terpukul. Dalam nyanyian udara malam, tubuhnya terasa melayang. Sangat menyejukkan dan menyenangkan. Sakit sebentar yang dirasanya.
            Rumah hijau diselimuti duka setelah kepergian Gyna. Mama nya tak menyangka bahwa Ia harus kehilangan anak satu-satunya yang dibanggakannya selama ini, setelah sehari pesta pernikahannya. Semua yang ada disitu merasa sedih saat kepergian Gyna.
*  *  *  *  *  *  *  *  *  *

      Rumah yang tadinya sepi setelah kepergian Gyna itu akhirnya ramai kembali setelah kehadiran seorang bayi perempuan di tengah-tengah mereka. Gunawan bisa mencintai Mama Gyna dan Ia menyadari, bahwa cerita cintanya memang bertakdir pada Mama Gyna. Sampai saat ini Mama Gyna tidak mengetahui kenyataan yang ada antara Gyna dan Gunawan. Gyna mungkin berbahagia disana dengan pengorbanan yang Ia lakukan untuk Mamanya yang sangat di sayanginya.


Horizontal Scroll:  “Tersenyumlah engkau Gyna di alam sana. Pengorbananmu tak akan sia-sia. Dan kini Mamamu bahagia karenamu. Dan aku sangat bangga pernah memilikimu. Lihat anak kami sekarang, mungkin setelah Ia dewasa sifatnya akan sama sepertimu.”
Tercatat dalam sebuah buku harian,

Gunawan yang selalu mencintaimu.




                                                  http://facebook.com/defira.a.mustika

Total Visitor




Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Followers

 
Copyright© 2012 My Document For Us | Template Blogger Designer by : Dedef' |
Template Name | A7x Transparent : Version 1.0 | Ms Lovegood